Properti Riba, Terpaksa atau Disengaja?

6 bulan yang lalu      Motivasi Diri

Harga tanah yang makin tinggi dan naik begitu cepat membuat industri properti di tanah air cukup tertekan, terutama untuk penyediaan rumah murah bagi masyarakat.

Dengan harga tanah yang semakin mahal tapi tak sebanding dengan kenaikan pendapatan, maka diprediksi akan makin banyak masyarakat yang tidak punya rumah.

Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) Sofyan Djalil mengungkapkan, hal ini menjadi perhatian serius dari pemerintah. Kebijakan yang menjawab kendala dari mahalnya harga tanah tadi akan menjadi fokus pertama pemerintah.

Sumber : https://finance.detik.com/properti/d-3749905

Zainul Ma’arif mengatakan ditengah mahalnya nilai rumah layak huni yang dibutuhkan itu, hukum riba diperbolehkan karena ada unsur kondisi darurat. “Padahal kita butuh tempat tinggal layak. Maka dari itu riba yang mudarat itu diperbolehkan karena kondisi darurat,” tambahnya.

Disisi lain, menurut pakar istilah al-Qur`an, ‘Allamah ar-Raghib al-Ashfahani, kata ‘darurat’ secara etimologis merujuk pada dua kondisi : Pertama, sesuatu yang terjadi karena dipaksa, bukan karena keinginan sendiri (ikhtiyar). Kedua, sesuatu yang tidak mungkin terjadi kecuali hanya dengannya.


Sederhananya, apakah melibatkan diri dalam properti non-syari’ah tersebut karena memang dipaksa? Siapa yang memaksanya? Jangan diterjemahkan ‘terpaksa’, sebab kata ini selalu bias dalam pengamalannya. Tidak ada siapapun yang memaksa, lalu berdalih: “Saya terpaksa, darurat, …”



Demikian halnya, apakah memang tidak ada lagi cara lain seperti yang sudah diajarkan dalam syari’at? Ataukah sudah tidak ada lagi cara meminjam yang sesuai syari’at di dunia ini, atau memang tidak pernah dicari cara yang halal tersebut? Apakah memang tidak ada properti syari’ah atau kita tidak mau berusaha mewujudkan properti syari’ah?

Sumber : https://www.attaubah-institute.com/batasan-darurat-riba/

Dalam konteks properti riba, maka silahkan berlakukan dua kriteria di atas. Apakah yang dinamakan kebutuhan oleh kita itu benar-benar murni ‘dipaksa’ ataukah karena dorongan syahwat ingin mengkredit rumah, malu jika seumur hidup sewa rumah. Kenapa harus malu dalam hal yang halal? Yang seharusnya malu itu jika menempuh jalan riba.

Padahal di Indonesia sudah banyak Konsep hunian syariah yang ditawarkan para developer. Salah satunya Hasanah Land Group. Dimana Masyarakat Indonesia bisa membeli rumah dengan mencicil tapi harga jualnya jelas, dan akadnya jelas, transaksi langsung antara penjual dengan pembeli, dan yang terpenting tanpa Riba.

Hasanahland.com sendiri fokus pada pengembangan konsep dan bisnis properti syariahnya, juga menyediakan sebuah program pendidikan kaderisasi umat bernama Kampus Properti Syariah.

Fokusnya adalah untuk melahirkan SDM berkualitas yang siap terjun di dunia bisnis properti syariah. Baik menjadi Praktisi Developer, Investor, Broker, Negosiator, Manager, Marketer, bahkan Analisator Kelayakan Bisnis Properti.



Artikel Terkait



Komentar Artikel "Properti Riba, Terpaksa atau Disengaja?"